Translate

Rabu, 21 Desember 2011

Song in Swiss

Ini cerita untuk tugas pelajaran mengarang di sekolah saya :D


Song in Swiss
“Kuliah kemana nih nanti?” Tanya Sara kepada sahabatnya, Tama yang saat itu sedang asyik menyantap semangkuk bakso panas. Tama hanya menoleh ke arah Sara sambil terus menyuap bakso ke dalam  mulutnya. Sara yang tadi bertanya, tidak di jawab-jawab oleh Tama mulai kesal dan segera mengambil alih semangkok bakso itu.
“ITU PUNYA GUE! MBETAK MULU!”  tangan Tama mencoba meraih semangkuk baksonya dari Sara namun tidak bisa. Sara melihatnya hanya senyum-senyum.
“Jawab dulu pertanyaan gue!Baru entar gue kasih!” ujar Sara sedikit membentak.
“Gak ah! Makan dulu gue!” sergah Tama.
“Jawab!”
“Enggaakk!!”
“Yaa udah, buat gue aja ini baksonya ya?” Tanya Sara usil. Tama akhirnya melunak, “Gue belom tau mau kemana, ra.  Palingan gue mau ke ISI Yogya…ngambil gitar akustik.” Sara hanya terdiam sambil menyerahkan kembali semangkuk bakso milik Tama tadi. Tama pun sebenarnya juga enggan memberitahu Sara dimana ia akan kuliah nanti namun, demi sahabat dan semangkuk bakso tadi ia akhirnya memberi tahu. “ Lo ke Swiss ya, ra?” Tanya Tama ke Sara. Sara hanya mengangguk pelan dan masih terdiam.
Dua bulan kemudian…..
“GUUEEEE LULUUSSS!!!! IYEA!IYEAA!”  Hampir semua anak SMA June berteriak kegirangan. Ya, hari ini hari dimana pengumuman kelulusan telah diumumkan. Tak terkecuali Sara dan Tama, mereka sedang duduk asyik merayakan kelulusan SMA-nya dengan dua mangkuk bakso dan dua gelas jus jeruk yang sudah terhidang manis di hadapan mereka. Sambil makan mereka asyik mengobrol dan tertawa-tawa hingga akhirnya mereka terdiam lama. Kedua hati mereka bergejolak ternyata. Mereka ingin agar tetap terus dekat seperti sekarang namun, kenyataannya nanti mereka tidak lagi bisa merasakan kedekatan itu lagi.
“Tanggal berapa ke Swissnya?” tanya Tama memecah keheningan.
“Lusa. Gue udah berangkat. Lo ikut nganter gue ke bandara kan?”
“Insyaallah ya ra,soalnya gue juga harus ngurus ke Yogya. Gue keterima di ISI.”
“Oh ya? SELAMAATT YA BRO! MAMEN! Nanti kalo ada festival akustik di Swiss,gue  mau undang universitas lo ah.. Tapi, lo harus ikut!”
“Emang di Swiss suka ngadain festival kayak gitu?”
“Iya, nanti gue yang bikin. Makanya, kuliah lo yang bener biar dosen lo-milih lo untuk ke itu festival terus lo ke Swiss deh.” jelas Sara semangat.
“Terus gue ketemu sahabat gue, si Sara yang jenong nan heboh lagi mondar-mandir sok sibuk!”
“HUUU!!” sorak Sara sambil menoyor kepala Tama. “Pokoknya, kita bakal ketemu lagi! Lo megang gitar akustik!  Gue megang….”
“Apaan?”
“Kertas sama bolpoint!” jawab Sara enteng.
“Lah kok?”
“Soalnya gue mau minta tanda tangan lu! Kan sama aja nanti  lu akan menjadi seorang GUEST STAR dari negara jauh, ya ga?”
“Terserah….” Ucap Tama sambil tertawa terbahak-bahak.



Pesawat yang membawa Sara ke Swiss sudah lepas landas dari 300 detik yang lalu. Namun, Tama masih berada di restoran cepat saji, Mc Donald di dekat bandara sambil terus mengenang masa-masa sebelum Sara ke Swiss.
“Janji ya lo bakal ke Swiss?Dan elo harus main gitar akustik!”
“Iya, gue janji.”
Semua yang sudah terjadi kembali lagi berputar di otak Tama. Perlahan-lahan ia meneteskan air matanya sambil tersenyum mengingat kejadian dan peristiwa selama berada di dekat orang yang amat Tama sayangi.



Hari berganti hari, bulan dan tahun pun berganti juga. Selama Sara di Swiss ia amat sangat menikmati dunia perkuliahan di sana. Namun sayang, komunikasi dengan teman-teman dan keluarganya yang berada di Indonesia sangat jarang dikarenakan, tugas kuliah Sara yang begitu banyak setiap harinya. Meski begitu prestasi dari setiap mata kuliah yang Sara ambil menunjukan nilai yang sangat baik. Hingga pada akhirnya predikat ketua senat mampu diraihnya.  Selama ia menjabat menjadi ketua Senat ia memiliki banyak program kerja dan semuanya berjalan dengan baik. Dan pada suatu hari, disaat Sara sedang duduk santai di kafe pancake favoritnya ia teringat akan janjinya kepada sahabat lamanya, Tama. Dan ia mulai menulis-nulis di buku kerja senat untuk sebuah even besar di universitasnya.
Demikian dengan Tama, awal ia masuk ke dunia kuliah, nilai mata kuliah yang Tama ambil menunjukan nilai D. Namun ia kembali bersemangat karena ia teringat akan janjinya kepada sahabat lamanya itu untuk menunjukan kemampuannya dalam bermain gitar, dan seiring waktu berjalan nilai mata kuliahnya berangsur membaik hingga mendapatkan predikat nilai B. Dan pada suatu kali, dosen yang mengajar Tama datang memanggil Tama. Dosennya mengatakan bahwa ada festival besar akustik di Swiss. Setelah enam tahun yang ditunggu-tunggu, akhirnya ada sebuah undangan festival ke Swiss kini di depan mata.  Langsung saja Tama mengiyakan akan megisi acara tersebut namun dengan satu syarat, Tama dan teman-temannya harus memperoleh nilai mata kuliah dengan predikat sangat baik. Demi tiket untuk pergi ke festival tersebut, Tama semakin menggiatkan dalam bermain gitar. Bersama dengan lima temannya Tama semakin giat berlatih dan akhirnya hari yang tertulis di tiket pesawat Swiss Airlines itu datang! Tama dan bandnya segera duduk dan menikmati perjalanan selama dua puluh jam.  Selama menunggu di dalam pesawat perasaan Tama amat tak karuan. Memang, seminggu sebelum tama berangkat, Sara sempat mengirimkan email, alamat universitasnya dan setelah itu tak ada jawaban lagi. Tama pun kemudian ingin sekali membuat kejutan untuk Sara saat di festival itu nanti.
Di universitas tempat Sara kuliah, hampir semua mahasiswa mempersiapkan segalanya.  Lighting, panggung,sound system, dan semuanya  sampai festival tersebut bisa berjalan sesuai rencana. Dan pada akhirnya, festival tersebut bisa dimulai. Konsep acaranya sangat sederahana. Keunikannya, para penonton festival ini bisa menikamati hidangan kecil-kecilan yang ditawarkan para mahasisiwa yang menyamar jadi pelayan keliling.
Band akustik Tama sudah siap di belakang panggung, sebentar lagi mereka tampil. Namun, Tama masih juga belum bisa menemukan sesosok yang ia cari  mulai dari Tama dan kawan-kawannya sampai di Swiss, Sara pun tak datang menjemput atau tidak sekedar memberi ucapan selamat datang kepada sahabatnya itu. Mungkin Sara terlalu sibuk mempersiapkan acara ini, batin Tama. Band akustik yang pertama mengisi acara yang datang dari New York sudah selesai. Sejenak Tama menghirup nafas dalam-dalam dan segera bersiap naik pentas. Saat lagu pertama antusias dari penonton masih sangat sedikit. Berjalan ke lagu kedua antusiasnya mulai membaik. Apalagi saat lagu kedua dimainkan-yang beraliran rock dari band Paramore yang berjudul Brick By Boring Brick mereka ubah menjadi akustik menambah semangat penonton untuk menyaksikan mereka bermain gitar.
 “Now, it’s time to us, to introduce our self.Because when you meet someone but you don’t know that someone, it’s very not rightly.” ucap Tama disambut gelak tawa penonton. Seusai tawa penonton mereda, mereka mulai memperkenalkan diri masing-masing dan yang terakhir dari mereka mulai memperkenalkan dirinya.  “My name is Tama Oktovianus and we will be showing our song that the song especially for Sara Indira from me” ucap Tama singkat dan seketika itu riuh-riuh penonton langsung mengarah ke sosok yang sedang duduk manis yang asyik mengobrol di bangku kru acara festival tersebut. Semua mata tertuju pada Sara! Sara yang kebingungan langsung bertanya kepada salah satu temannya. “One of the man on the stage will be presenting one song for you! Go! Come to him!” ucap teman Sara yang langsung menarik tangan Sara dan tiblah Sara di samping panggung.
Wajah Tama langsung memerah. Tanpa sengaja disana sedang terjadi mini nostalgia. Tama dengan Sara. “ Kemana aja lo? Gue tanyain kabar lo, lo gak jawab.” tanya Tama yang lega karena bisa bertemu dengan Sara. Mereka pun berpelukan. “ You did It! Iam so sorry, gue sibuk untuk ini acara.”  Bisik Sara sambil meneteskan air matanya. Ia langsung menyambar mikrofon seusai melepaskan pelukan kangennya itu. 7 “He is my best friend when I am  senior high school. Before I study in here, we have one promise that he must come to me in Swiss, when I have one big project. That big project is it, Agustica Festival. Finnaly, enjoy the Agustica Festival!” jelas Sara. Lalu Tama dan kawan-kawannya sedang mengambil posisi untuk memainkan sebuah lagu
“Semua tau kan lagu yang yang kemarin waktu latihan?”
“Yang elo komposernya, tam?”
“Iya. Kita mainin itu lagu, oke?”
“Buat Sara Indira?”
 “Of course!For my best friend.” ucap Tama singkat.
Sara tetap di atas panggung menyaksikan sahabat sekaligus orang yang ia sayangi menyanyikan lagu untuknya.
Remember? When we sitting together under the tree?
I whispering one sentence
You and me, one thing that friendship never last
Tama pun mengalihkan pandangan ke samping panggung dan disambut senyuman manis dari Sara.



Selesai

Pendapatnya doong hehe, Makasi

1 komentar:

  1. Keren nes :)
    Ini pengalaman pribadi, pengalaman temen, atau imagine sendiri?

    BalasHapus